Sabtu, 07 Mei 2011

buletin majelis tarbiyah islamiyah I


Buletin I
مجالس التربية الاسلامية
Majelis Tarbiyah Islamiyah
Membaca yang tersurat, memahami yang tersirat dan memaknai yang tersuruk serta beramal dengan ma’rifat
 


Saya dan Nasruddin Hoja
Heri Soerikno *

Berbicara tentang humor dalam sejarah Islam yang mengajarkan kearifan dan sarat dengan nilai-nilai luhur tentu Abu Nawas merupakan sosok yang paling dikenal sampai hari ini. Namun masih ada seorang sufi yang sama dengan Abu Nawas yang juga hidup pada masa kejayaan Islam, meskipun pada masa yang berbeda, yaitu Nasruddin Hoja.
Judul ini tidaklah pantas jika dilihat dari kerangka ilmiah, baik dari sudut bahasa apalagi dari sudut isi. Penggunaan kata penghubung ‘dan’ dalam bahasa Indonesia merupakan sesuatu yang memiliki banyak persamaan, maka sudah pasti tidaklah mungkin mengukur kesamaan antara saya dengan Nasruddin Hoja.
Ada beberapa alasan ketidakmungkinan itu, pertama dari sisi waktu Hoja hidup pada abad ke-19 pada masa kerajaan Turki Usmani, sedangkan saya hidup pada abad ke-21 di Indonesia. Kedua dari factor keilmuan, Hoja seorang ilmuan dan sufi pada masanya sehingga dikenang dan dijadikan rujukan ilmu bagi umat hari ini, sementara saya hanya berpedoman pada apa yang disampaikan Hoja tentang kearifan berpikir, bersikap dan bertindak.
Meskipun begitu, ini menjadi bukti keutamaan pemikiran yang sarat dengan nilai-nilai kebenaran yang universal, ia akan tetap hidup melintasi masa dan waktu meskipun si pememilik pemikiran itu sudah mati. Namun secara lebih sederhana tulisan ini hanya mencoba menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Hoja tentang semua aspek kehidupan beragama yang pernah dikritisi pada masanya. Nah barangkali hanya pada semangat saja ada persamaan antara saya dan Hoja.
Nasruddin Hoja lahir pada tahun 1208 di desa Hortu (sekarang disebut dengan nama Nasreddin Hoca Koyu) Turki dan meninggal tahun 1284 di Aksehir. Tidak banyak data yang menjelaskan tentang bagaimana kehidupan Hoja yang sesungguhnya karena keterbatasan bukti tertulis yang bisa dijadikan rujukan bagaimana perjalanan kehidupan Hoja. Hal itu disebabkan oleh beberapa factor, yaitu bahwa sebagian sejarawan memandang bahwa Hoja hanyalah fiktif belaka sebagai hasil kejayaan sastra pada masa Turki Usmani berkuasa, namun sebagian sejarawan melihat Hoja merupakan sejarah masa lampau dengan adanya bukti-bukti yang bias dijadikan bukti keberadaan Hoja.
Pada abad ke 19 Mufti Sivrihisar, Huseyin Efendi, menulis dalam Mejmua-i Maarif bahwa Hoja belajar di SIvrihisar dan madrasah Konya. Hoja belajar fiqh serta belajar tasawuf langsung pada Mawlana Jala al-Din al-Rumi (1207-1273) di Konya. Kemudian Hoja mengikuti Seyyeid Mahmud Hayrani, sebagi guru sufi keduanya, hijrah ke Aksehir dan menikah di sana.
Sosok Hoja dikenal sebagai tokoh sufi yang kocak dan penuh dengan makna sufistik, filosofis, menggelitik nalar dan hati nurani. Tanda-tanda kelucuan yang dimilki oleh Hoja sudah terlihat semenjak ia muda, hal itu menyebabkan pengaruh kelalaian teman-temannya untuk belajar di sekolah, namun lebih menarik ketika mendengarkan ulah dan tingkah laku lucu yang bijak dari Hoja. Memperhatikan tingkah laku Hoja, maka gurunya Seyyeid Mahmud Hayrani berkata “kelak ketika engkau sudah dewasa, engkau akan menjadi orang yang bijak. Tetapi sebijak apa pun kata-katamu, namun orang-orang akan tetap menertawaimu”.
Hal itu kelak ketika Hoja dewasa menjadi kenyataan, itu terbukti dengan diangktanya Hoja sebagai hakim dan imam di Aksehir. Ketersohoran Hoja tidak hanya karena ia duduk dalam struktur pemerintahan, tetapi karena humornya yang tinggi dengan penjelasan-penjelasan yang cemerlang dan tidak semua orang yang mampu memahami dengan mudah yang disampaikan oleh Hoja.
Dalam buletin ini saya akan menuliskan beberapa humor yang disampaikan oleh Hoja pada masanya dengan ulasan dan analisa sederhana, agar pemikiran Hoja tidak menjadi pemikiran yang berada pada ruang hampa dan memiliki nilai relevansi untuk kehidupan kita hari ini. Tentu dalam segala keterbatasan yang saya miliki.
Pada satu kali pelaksanaan shalat Jum’at, Nasrudin menjadi imam Shalat Jum'at. Namun belum lama ia berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang Mullah,
"Api ! Api ! Api !" Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya, "Dimana apinya, Mullah ?"
Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya, "Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah."

* Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Jannah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar