Sabtu, 07 Mei 2011

buletin II

KOPIAH : IDENTITAS AGAMA DAN NASIONALISME
Oleh : Heri Surikno *

Identitas dalam kamus popoler memiliki beberapa arti, antara lain ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang atau jati diri. Seperti dalam istilah umum, bahwa pancasila sebagai identitas kepribadian masyarakat Indonesia, maksudnya ialah bahwa ciri-ciri masyarakat Indonesia ialah yang menjadikan pancasila sebagai jati dirinya. Begitu juga dengan KTP yang disebut sebagai kartu identitas. Pengertiannya bahwa ciri-ciri tentang seseorang dapat dilihat dalam kartu tanda pengenal itu. Maka yang dimaksudkan dengan identitas pesantren dalam tulisan ini adalah ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh pesantren dan tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain yaitu kopiah.
Lantas pertanyaannya, apakah berkopiah bisa disebut sebagai identitas yang akan melekat sebagai jati diri? Sehingga dengan hal itu akan menyebabkan seseorang akan memiliki jati diri khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain? Sementara pada sisi lain kebanyakan orang menganggap bahwa kopiah merupakan sesuatu yang ketinggalan zaman dan hanya pantas di pakai oleh orang-orang yang sudah berumur, maka akan digelari jadul ketika ada anak muda yang berkopiah. Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, sangat penting untuk kita kaji lebih sejarah kopiah, khususnya di Indonesia.
Pada tahun 1908 yang merupakan awal pergerakan nasional, para pemuda dan aktifis yang tergabung dalam kelompok-kelompok pelajar dan pemuda kebanyakan mereka masih memakai daster dan tutup kepala blangkon (seperti Jendral Sudirman dan Budi Utomo). Tradisi ini merupakan ciri khas masyarakat priyayi dan aristokrat yang juga bias disebut sebagai simbol pembeda masyarakat elit dan masyarakat biasa yang diciptakan oleh penjajah.
Seiring semakin meluasnya semangat nasionalisme yang digadang-gadang oleh kaum terpelajar dan pemuda Indonesia dan semangat untuk menantang penjajahan serta system feodalisme yang mengagung-agungkan pangkat dan jabatan berubah menjadi semangat sama rasa dan persatuan yang mengedepankan kepentingan Bangsa. Maka dalam semua semangat itu keberadaan tokoh yang menjadi panutan, idola sekaligus guru menjadi penting perannya. Hal itu terlihat dari adanya asumsi yang menyebutkan bahwa Tjokroaminoto sebagai aktifis pergerakan dan guru di kalangan para pemuda Indonesia pada waktu itu selalu memakai kopiah dalam semua aktifitas pergerakannya, salah seorang muridnya ialah Soekarno, presiden pertama Indonesia.
Namun yang penting untuk menjadi catatan kita, bahwa sesungguhnya tradisi kopiah sudah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan pesantren yang masanya lebih dahulu dari pergerakan pemuda dan pelajar pada tahun 1908 itu. Kesimpulan ini dapat dibenarkan dengan dua argumentasi, pertama, pesantren yang merupakan symbol pengembangan Islam sudah terlebih dahulu hidup dan tumbuh dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena masyarakatnya sudah banyak yang memeluk agama Islam, meskipun pesantren dalam pengertian sebagai pusat pengajaran agama yang masih jauh dari defenisi pesantren hari ini. Kedua ini membuktikan partisipasi aktif pesantren dengan keterlibatan para kiyai dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan, sehingga keberadaan mereka menjadi panutan dari kaum pelajar dan pemuda pada waktu itu.
Maka ada beberapa fungsi inti dari berkopiah dalam semangat masa lalu yang mesti tetap dijadikan identitas antara lain ; pertama kopiah merupakan symbol Islamisasi yaitu kopiah sebagai penanda seseorang beragama Islam atau bukan. Kedua, kopiah sebagai symbol patriotisme dan nasionalisme yaitu kopiah sebagai pembeda antara pejuang kemerdekaan yang anti penjajah dan jauh dari sikap feodal yang terlalu dangkal dalam memandang manusia hanya dari pangkat dan jabatan atau kopiah sebagai penanda orang-orang lebih mencari muka kepada Belanda.
Selain beberapa hal itu, jika dilihat dari aspek keIslaman juga dapat dilihat bagaimana fungsi dan kedudukan kopiah bagi seorang muslim. Kopiah pada ghalibnya tidak dipakai oleh semua orang, tetapi lebih identik dengan ahli agama, sehingga dianggap kurang sopan ketika ada ahli agama yang tidak menutup kepada dalam pergaulan keseharian tanpa penutup kepada seperti kopiah, dan orang yang berkopiah dalam pandangan masyarakat awam merupakan orang yang lebih popular dari orang tidak berkopiah. Bahkan dalam perspektif fiqih ada ulama yang berpendapat bahwa seorang bapak belum boleh menjadi wali pernikahan pada seorang wanita yang berada dalam perwaliannya, karena tidak memakai penutup kepada bagi pria dewasa adalah sesuatu yang melanggar aturan masyarakat yang bisa membawa seseorang tidak lagi bisa disebut adil dalam pengertian agama, sehingga orang yang tidak adil belum boleh menjadi wali pernikahan.  
Mencermati semua nilai dan dampak dari kopiah pada masa lalu, maka keberadaan kopiah hari ini dikembalikan pada khittah semula dalam rangka mencari jati diri terutama di kalangan orang-orang yang berada dalam kehidupan pesantren. Sebab kopiah yang lahir dari kehidupan pesantren sekarang sudah dijadikan sebagai atribut nasional yang dipakai tidak hanya orang Islam saja, namun bagi semua orang yang pada maklumnya melaksanakan sesuatu yang bersifat tugas seperti pelantikan pejabat, rapat-rapat resmi dan lain sebagainya.
Namun terlepas dari keberadaan kopiah sebagai salah satu pakaian nasional, pesantren selalu mengembangkan tradisi masa lalu yang memang bermula dari kalangan pesantren sendiri meskipun tidak dalam setiap waktu, minimal ketika berada dalam lingkungan pesantren dan melaksanakan shalat lima waktu. Karena kopiah sebagai tradisi pesantren dalam perjalanannya mungkin mengalami pasang surutnya, maka pesantren memiliki tanggung jawab moral untuk mempertahankan tradisi yang mengandung nilai-nilai kebajikan dalam pandangan aturan masyarakat dan terlebih aturan agama, sebab kalau bukan pesantren, siapa lagi yang akan melestarikan tradisi itu?
* Pengajar Ponpes Sabilul Jannah
SAHABAT

Lutri Wahyuni *

di bangku madrasah
awal persahabatan kita
kau tersenyum ramah
mengajak ku bercerita

persahabatan kita indah
dan banyak cerita
bermain bersama
dan belajar bersama

dahulu hanya sebatas sahabat
tanpa ada rasa yang terendap
namun kini
sejak kau pergi
hatiku sedih dan tersakiti

dan ku yakin kau takkan kembali
sesal itu kini menyelimuti
segala mimpi-mimpi pasti
dan ku ingin kau kembali

pada siapa ku mencari
sosok jati diri yang berarti
sampai aku disini sengsara
tak relakan perjalanan cinta


Timbulun, 14/01/2011
* Santri kelas X Ponpes Sabilul Jannah




Edri Oktaria Putra *

“Gagal adalah jalan menuju sukses, Jadi…
Orang yang sukses tanpa mencicipi kegagalan, Maka akan merasa sombong dengan apa yang dimilikinya”
“Sungguhlah dalam mencapai suatu keinginan besar, karena yang dituntut dari keinginan besar itu bukanlah hasilnya tapi kesungguhannya, karena usaha tidak akan berhasil tanpa kesungguhan…”
“Malas adalah penghambat untuk mencapai sukses, karena kebanyakan dari orang sukses itu adalah orang-orang yang berhasil mengalahkan malasnya”
“Yang lebih mahal dalam hidup ini adalah jujur, Beribu kejujuran akan menjadi tidak berharga dengan satu kebohongan”
“Jangan merasa puas dengan keberhasilan yang kamu capai, Tapi, merasa puaslah atas kegagalan yang dating karena kesalahan yang tidak disengaja”
“Sahabat yang baik adalah sahabat yang tidak bertentangan sifat lahir dengan sifat batinnya”
“Bagi kebanyakan orang-orang kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Tapi bagi saya,
Kegagalan adalah keberhasilan yang belum sempurna, karena kesalahan yang tidak disengaja”
“diam dari kata-kata yang jelek, itu emas, berkata dengan kata-kata yang baik lagi emas”

* santri kelas XII Ponpes Sabilul Jannah




Kasih Sayang Ibu
Oleh : Rahayu Nengsih *

ibu…
kasih sayangmu padaku
takkan bias kuhitung
dengan apapun juga

ibu…
demi sayangmu padaku
engkau rela banting tulang
demi memberiku makan
ibu…
maafkan aku
telah durhaka padamu
dan sekarang aku tahu
besarnya jasa ibu

ibu…
sekarang akujauh darimu
namun aku akan selalu
mengingat jasa-jasamu

Timbulun,18/01/2011

*santri kelas VII Ponpes Sabilul Jannah


“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan Ini untuk perumpamaan?." dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”. (surat al-Baqarah : 26)
Membaca apa yang tercipta merupakan kemestian bagi orang yang beriman. Setidaknya hal itulah yang Allah gambarkan secara lahiriah dalam surat al-baqarah ayat ke 26 ini. Memahami apa yang tercipta, tidak hanya terbatas pada kejadian makhluk, namun lebih luas dapat dipahami segala peristiwa yang melingkupi semua kehidupan makhluk itu, dalam skala kecil ataupun besar. Karena dengan memikirkan kejadian nyamuk, orang akan berpikir bagaimana agar tidak di ganggu nyamuk ketika tidur, karena jatuhnya sebuah apel, maka muncul teori gravitasi bumi dan sebagainya.
Lutri Wahyuni dan Edri Oktaria Putra sudah berusaha untuk memasuki dunia membaca kemudian menuliskan, dengan memperhatikan kenyataan kehidupan yang dilihat, diamati dan dirasakannya, kenyataan tidak perlu dilihat dari apakah pengalaman pribadi ataupun mengamati orang lain.
“Sahabat” mencoba menggambarkan kepada kita tentang ketiadaan, kekosongan dan kesenyapan yang bermula dari kejujuran menjalani kehidupan dan keikhlasan menerima orang lain apa adanya, sehingga kejujuran dan keikhlasan itulah yang menyebabkan adanya rindu yang beberapa waktu orang sadari sebagai harapan untuk menjalani masa depan yang lebih bermakna, tetapi tentu bukan keputusasaan yang selalu diakhiri dengan kata ‘tidak mungkin’.
Tak ada sedikitpun dari penciptaan yang bersifat sia-sia, apakah itu sederhana atau yang lebih rumit untuk dipahami, namun yang terpenting dari sebuah peristiwa bukanlah hasil dari pemahaman, namun kesungguhan dalam memahami ciptaan itu.
Edri mencoba memberi kesadaran yang lebih dalam untuk memahami setiap peristiwa kehidupan. kehidupan memang rumit dan aneh seperti halnya kerumitan dan keanehan manusia sebagai pelaku kehidupan itu sendiri. Dalam setiap orang yang berbeda sudah pasti dengan sikap yang berbeda, bahkan dalam satu diri, juga akan sangat mungkin munculnya ketidaksamaan dalam menyikapi sesuatu. Maka yang penting dari semua peristiwa adalah cara menyikap agar tidak ada kesia-siaan dalam setiap peristiwa kehidupan. So…? Masih banyak waktu bagi kita semua untuk belajar dan belajar tentang apa saja. alam takambang jadi guru (radaksi)

buletin majelis tarbiyah islamiyah I


Buletin I
مجالس التربية الاسلامية
Majelis Tarbiyah Islamiyah
Membaca yang tersurat, memahami yang tersirat dan memaknai yang tersuruk serta beramal dengan ma’rifat
 


Saya dan Nasruddin Hoja
Heri Soerikno *

Berbicara tentang humor dalam sejarah Islam yang mengajarkan kearifan dan sarat dengan nilai-nilai luhur tentu Abu Nawas merupakan sosok yang paling dikenal sampai hari ini. Namun masih ada seorang sufi yang sama dengan Abu Nawas yang juga hidup pada masa kejayaan Islam, meskipun pada masa yang berbeda, yaitu Nasruddin Hoja.
Judul ini tidaklah pantas jika dilihat dari kerangka ilmiah, baik dari sudut bahasa apalagi dari sudut isi. Penggunaan kata penghubung ‘dan’ dalam bahasa Indonesia merupakan sesuatu yang memiliki banyak persamaan, maka sudah pasti tidaklah mungkin mengukur kesamaan antara saya dengan Nasruddin Hoja.
Ada beberapa alasan ketidakmungkinan itu, pertama dari sisi waktu Hoja hidup pada abad ke-19 pada masa kerajaan Turki Usmani, sedangkan saya hidup pada abad ke-21 di Indonesia. Kedua dari factor keilmuan, Hoja seorang ilmuan dan sufi pada masanya sehingga dikenang dan dijadikan rujukan ilmu bagi umat hari ini, sementara saya hanya berpedoman pada apa yang disampaikan Hoja tentang kearifan berpikir, bersikap dan bertindak.
Meskipun begitu, ini menjadi bukti keutamaan pemikiran yang sarat dengan nilai-nilai kebenaran yang universal, ia akan tetap hidup melintasi masa dan waktu meskipun si pememilik pemikiran itu sudah mati. Namun secara lebih sederhana tulisan ini hanya mencoba menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Hoja tentang semua aspek kehidupan beragama yang pernah dikritisi pada masanya. Nah barangkali hanya pada semangat saja ada persamaan antara saya dan Hoja.
Nasruddin Hoja lahir pada tahun 1208 di desa Hortu (sekarang disebut dengan nama Nasreddin Hoca Koyu) Turki dan meninggal tahun 1284 di Aksehir. Tidak banyak data yang menjelaskan tentang bagaimana kehidupan Hoja yang sesungguhnya karena keterbatasan bukti tertulis yang bisa dijadikan rujukan bagaimana perjalanan kehidupan Hoja. Hal itu disebabkan oleh beberapa factor, yaitu bahwa sebagian sejarawan memandang bahwa Hoja hanyalah fiktif belaka sebagai hasil kejayaan sastra pada masa Turki Usmani berkuasa, namun sebagian sejarawan melihat Hoja merupakan sejarah masa lampau dengan adanya bukti-bukti yang bias dijadikan bukti keberadaan Hoja.
Pada abad ke 19 Mufti Sivrihisar, Huseyin Efendi, menulis dalam Mejmua-i Maarif bahwa Hoja belajar di SIvrihisar dan madrasah Konya. Hoja belajar fiqh serta belajar tasawuf langsung pada Mawlana Jala al-Din al-Rumi (1207-1273) di Konya. Kemudian Hoja mengikuti Seyyeid Mahmud Hayrani, sebagi guru sufi keduanya, hijrah ke Aksehir dan menikah di sana.
Sosok Hoja dikenal sebagai tokoh sufi yang kocak dan penuh dengan makna sufistik, filosofis, menggelitik nalar dan hati nurani. Tanda-tanda kelucuan yang dimilki oleh Hoja sudah terlihat semenjak ia muda, hal itu menyebabkan pengaruh kelalaian teman-temannya untuk belajar di sekolah, namun lebih menarik ketika mendengarkan ulah dan tingkah laku lucu yang bijak dari Hoja. Memperhatikan tingkah laku Hoja, maka gurunya Seyyeid Mahmud Hayrani berkata “kelak ketika engkau sudah dewasa, engkau akan menjadi orang yang bijak. Tetapi sebijak apa pun kata-katamu, namun orang-orang akan tetap menertawaimu”.
Hal itu kelak ketika Hoja dewasa menjadi kenyataan, itu terbukti dengan diangktanya Hoja sebagai hakim dan imam di Aksehir. Ketersohoran Hoja tidak hanya karena ia duduk dalam struktur pemerintahan, tetapi karena humornya yang tinggi dengan penjelasan-penjelasan yang cemerlang dan tidak semua orang yang mampu memahami dengan mudah yang disampaikan oleh Hoja.
Dalam buletin ini saya akan menuliskan beberapa humor yang disampaikan oleh Hoja pada masanya dengan ulasan dan analisa sederhana, agar pemikiran Hoja tidak menjadi pemikiran yang berada pada ruang hampa dan memiliki nilai relevansi untuk kehidupan kita hari ini. Tentu dalam segala keterbatasan yang saya miliki.
Pada satu kali pelaksanaan shalat Jum’at, Nasrudin menjadi imam Shalat Jum'at. Namun belum lama ia berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang Mullah,
"Api ! Api ! Api !" Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya, "Dimana apinya, Mullah ?"
Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya, "Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah."

* Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Jannah