SUMBER-SUMBER PENGETAHUAN
(EMPIRISME DAN RASIONALISME)
Oleh : Heri Surikno
A. Pendahuluan
Kemunculan sebuah pemikiran tidak bisa lepas dari nilai yang mempengaruhi dari peristiwa dan pemikiran yang hdiup dan berkembang sebelumnya. Juga halnya dengan empirisme dan rasionalisme, kedua konsep pengetahuan ini tidaklah berada para ruang hampa yang tidak mengakar pada realitas pemikiran sebelumnya.
Rasionalisme yang lahir satu abad setelah masa krisis abad pertengahan yang disebut dengan renaissance pada abad ke 15 samapai abad 16. kemunculan rasionalisme merupakan elaborasi ketidakpuasan terhadap pemikiran skolastik yang berkembang sebelumnya, sekaligus kritikan Descartes sebagai bapak filsafat modern yang pernah belajar filsafat skolastik.
Sementara empirisme lahir sebagai kritik dan ketidakpuasan metode yang dipakai rasionalisme dalam mencari kebenaran. Salah satu kritikannya adalah bahwa tidak sepenuhnya benar apa yang berasal dari akal, bahkan akal mungkin menipu dalam segala pembuktiannya.
Maka pada makalah ini penulis akan memaparkan tentang beberapa pemikiran empirisme dan rasionalisme serta beberapa tokoh pemikir keduanya secara gambling, dengan harapan bisa menjadi bahan dasar untuk didiskusikan lebih lanjut.
B. Kemunculan Empirisme
Para pemikir di Inggris bergerak ke arah yang berbeda dengan tema yang telah dirintis oleh Descartes. Mereka lebih mengikuti Jejak Francis Bacon, yaitu aliran empirisme. Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peran akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani
empeiria yang berarti pengalaman atau coba-coba.
Sementara menurut A.R. Lacey berdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera.Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Akan tetapi tidak berarti bahwa rasionalisme ditolak sama sekali. Dapat dikatakan bahwa rasionalisme dipergunakan dalam kerangka empirisme, atau rasionalisme dilihat dalam bingkai empirisme.
Ada banyak filosof yang memiliki metode berpikir empiris, namun pada makalah ini penulis hanya menjelaskan beberapa orang saja yang dianggap paling memilki kontribusi besar dalam pengembangan filsafat empirisme. Mereka antara lain Thomas Hobbes, John Locke, David Hume dan Herbert Spencer.
C. Tokoh-Tokoh Empirisme
1. Thomas Hobbes (1588-1679)
Thomas Hobbes hidup pada masa malapetaka perang saudara di Inggris antara kubu Charles I dan kubu parlemen pada abad ke-17. malapetaka ini dimenangkan oleh pihak parlemen yang sekaligus mengakhiri masa kekuasaan Charles I sekaligus mengakhiri kehidupannya karena ia mati digantung oleh pihak yang menang.
Hobbes memiliki keistimewaan yang berbeda jika dibandingkan dengan yang lain di masanya. Hal itu terlihat dari pada saat ia kuliah di Universitas Oxpord selain menjadi mahasiswa sekaligus menjadi asisten dosen pribadi keluarga bangsawan Chavendish. Minatnya dalam membaca karya-karya klasik seperti menerjemahkan karya Thucydides dan puisi
Iliad dan Odysey karya Homerus sebagai penyair termasyhur zaman Yunani. Bahkan dia sempat berkontak dengan Galileo dan menjadi sekretaris Francis Bacon.
Thomas Hobbes dikenal sebagai pendiri filsafat mandiri, karena ia berpendapat bahwa filsafat tidak berurusan dengan hal-hal yang bersifat teologis atau segala sesuatu yang berada dalam ruang lingkup agama.
Pendapat ini ia munculkan karena melihat dari sejarah filsafat dari masa renaissance banyak filosof yang sulit membedakan antara filsafat dan teologi, di samping filsafat juga sudah terlalu banyak disusupi oleh gagasan religius.
Penolakan Hobbes terhadap pencampuran filsafat dengan teologi karena ia melihat bahwa objek kajian dan metode menbuktikan sesuatu berbeda antara agama dan filsafat. Filsafat lebih melihat pada objek lahiriah yang bergerak beserta cirri-cirinya atau hal-hal yang dapat dialami oleh tubuh manusia. Sedangkan agama membicarakan substansi yang tidak berubah dan tidak bergerak, seperti Tuhan, malaikat dan roh yang kesemua itu tidak dapat dibuktikan dengan empirik manusia.
Pemikiran Hobbes lebih dititik beratkan pada bahwa kenyataan terakhir adalah kenyataan indrawi yaitu kenyataan material yang bisa dialami. Sebab menurut Hobbes bahwa yang menjadi asas pertama adalah materi dan gerak, maka tidak masuk kedalamnya konsep-konsep spiritual seperti yang diajarkan agama karena tidak terdapat dalam pengalaman kita.
Konsep berpikir seperti ini kemudian yang menghantarkan Hobbes pada kesimpulan bahwa pengetahuan harus berdasarkan pada pengalaman dan observasi.
Maka dapat disimpulkan dari filsafat Thomas Hobbes bahwa pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengetahuan. Hanya sesuatu yang dapat disentuh dengan inderalah yang merupakan kebenaran. Pengetahuan kita tak mengatasi pengindraan dengan kata lain pengetahuan yang benar hanyalah pengetahuan indera saja, yang lain tidak. Ada yang menyebut Hobbes itu menganut sensualisme, karena ia amat mengutamakan sensus (indra) dalam pengetahuan. Tetapi dalam hubungan ini tentulah ia anggap salah satu dari penganut empirisme, yang mengatakan bahwa persantuhan dengan indera (empirik) itulah yang menjadi pangkal dan sumber pengetahuan.
2. John Locke (1632-1704)
John locke dilahirkan di Wrington, dekat Bristol, Inggris. Ia adalah filosof yang banyak mempelajari agama Kristen. Disamping sebagai seorang ahli hukum ia juga menyukai filsafat dan teologi, mendalami ilmu kedokteran, dan penelitian kimia. Dalam mencapai kebenaran, sampai seberapa jauh (bagimana) manusia memakai kemampuannya.
John Locke sebagai filosof empirisme berpandangan bahwa pengalaman atau empirisme itulah yang menjadi sumber segala pengetahuan, sebab tanpa adanya pengalaman, pengetahuan tidak bisa didapat dengan sebenarnya.
Ajaran Locke lainnya tentang apa yang kita ketahui tentang pengalaman itu bukanlah objek atau benda yang mau kita ketahui sendiri, melainkan kesan-kesannya pada panca indra.
Sehingga dengan dua ajarannya ini dikenal istilah sensation dan refleksion. Sensation adalah kemampuan pengetahuan manusia sampai kemanakah ia dapat mencapai kebenaran dan bagimanakah mencapainya itu, sedangkan reflektion adalah pengenalan intuitif yang memberikan pengetahuan kepada manusia, yang lebih baik daripada sensation.
Dalam pandangan filsafat empirisnya, Jphn Locke memberikan kritikan dan argument terhadap ajaran filsafat rasionalisme. Beberapa kesimpulan bantahan argument itu antara lain
:
a. Dari jalan masuknya pengetahuan kita mengetahui bahwa innate (dalam pandangan Descartes disebut dengan apriori) itu tidak ada, memang agak umum orang beranggapan bahwa innate itu ada. Ia itu seperti ditempelkan pada jiwa manusia, dan jiwa membawanya ke dunia ini. Sebenarnya kenyataan telah cukup menjelaskan kepada kita bagaimana pengetahuan itu datang, yakni melalui daya-daya yang alamiah tanpa bantuan kesan-kesan bawaan, dan kita sampai pada keyakinan tanpa suatu pengertian asli.
b. Persetujuan umum adalah argument yang terkuat. Tidak ada sesuatu yang dapat disetujui oleh umum tentang adanya innate idea justru dijadikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.
c. Persetujuan umum membuktikan tidak adanya innate idea.
d. Apa innate itu sebenarnya tidaklah mungkin diakui dan sekaligus juga tidak diakui adanya. Bukti-bukti yang mengatakan ada innate itu ada justru saya jadikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.
e. Tidak juga dicetakkan (distempelkan) pada jiwa sebab pada anak idiot ide yang innate itu tidak ada padahal anak normal dan akan “idiot sama-sama berpikir”.
Pada masa Locke, filsafat mengalami perubahan arah. Jika rasionalisme Descartes mengajarkan bahwa pengetahuan yang paling berharga tidak berasal dari pengalaman, maka menurut Locke, pengalamanlah yang menjadi dasar dari segala pengetahuan. Namun demikian, empirisme dihadapkan pada sebuah persoalan yang sampai begitu jauh belum bisa dipecahkan secara memuaskan oleh filsafat. Persoalannya adalah menunjukkan bagaimana kita mempunyai pengetahuan tentang sesuatu selain diri kita dan cara kerja pikiran itu sendiri.
3. David Hume (1711-1776)
David Hume lahir di Edinburg, Skotlandia pada 1711. Ia pun menempuh pendidikannya di sana. Keluarganya berharap agar ia kelak menjadi ahli hukum, tetapi Hume hanya menyenangi filsafat dan pengetahuan. Setelah dalam beberapa tahun belajar secara otodidak, ia pindah ke La Flèche, Prancis (tempat di mana Descartes menempuh pendidikan).34 Sejak itu pula hingga wafatnya 1776 ia lebih banyak menghabiskan waktu hidupnya di Prancis.
Dalam ajaran filsafat empirisme Hume bahwa apa saja yang merupakan pengetahuan itu hanya disebabkan oleh pengalaman. Adapun yang bersentuhan dengan indra kita itu sifat-sifat atau gejala-gejala dari hal tersebut. Yang menyebabkan kita mempunyai pengertia sesuatu yang tetap – substansi – itu tidak lain dari perulangan pengalaman yang demikian acap kalinya, sehingga kita menganggap mempunyai pengertian tentang suatu hal, tetapi sebetulnya tidak ada substansi itu hanya anggapan, khayal, sebenarnya tidak ada.
Ajaran Hume disebut dengan
“nihil est intelectu quod non antea fuerit in sensu” yang berarti, “tidak ada satu pun ada dalam pikiran yang tidak terlebih dahulu terdapat pada data-data inderawi”. Namun untuk mengetahui sesuatu penting untuk dibedakan antara kesan dan ide. Kesan merupakan penginderaan langsung atas realitas lahiriah, sementara ide adalah ingatan atas kesan-kesan. Menurutnya, kesan selalu muncul lebih dahulu, sementara ide sebagai pengalaman langsung tidak dapat diragukan. Dengan kata lain, karena ide merupakan ingatan atas kesan-kesan, maka isi pikiran manusia tergantung kepada aktivitas inderanya.Sehingga David Hume berpndangan bahwa pikiran kita bekerja berdasarkan tiga prinsip pertautan ide. Pertama, prinsip kemiripan yaitu mencari kemiripan antara apa yang ada di benak kita dengan kenyataan di luar. Kedua, prinsip kedekatan yaitu kalau kita memikirkan sebuah rumah, maka berdasarkan prinsip kedekatan kita juga berpikir tentang adanya jendela, pintu, atap, perabot sesuai dengan gambaran rumah yang kita dapatkan lewat pengalaman inderawi sebelumnya. Ketiga, prinsip sebab-akibat yaitu jika kita memikirkan luka, kita pasti memikirkan rasa sakit yang diakibatkannya
D. Kemunculan Rasionalisme
Usaha manusia untuk memberi kemandirian kepada akal sebagaimana yang telah dirintis oleh para pemikir renaisans, masih berlanjut terus sampai abad ke-17. Abad ke-17 adalah era dimulainya pemikiran-pemikiran kefilsafatan dalam artian yang sebenarnya. Semakin lama manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar terhadap kemampuan akal, bahkan diyakini bahwa dengan kemampuan akal segala macam persoalan dapat dijelaskan, semua permasalahan dapat dipahami dan dipecahkan termasuk seluruh masalah kemanusiaan.
Keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan akal telah berimplikasi kepada perang terhadap mereka yang malas mempergunakan akalnya, terhadap kepercayaan yang bersifat dogmatis seperti yang terjadi pada abad pertengahan, terhadap norma-norma yang bersifat tradisi dan terhadap apa saja yang tidak masuk akal termasuk keyakinan-keyakinan dan serta semua anggapan yang tidak rasional.
Dengan kekuasaan akal tersebut, orang berharap akan lahir suatu dunia baru yang lebih sempurna, dipimpin dan dikendalikan oleh akal sehat manusia. Kepercayaan terhadap akal ini sangat jelas terlihat dalam bidang filsafat, yaitu dalam bentuk suatu keinginan untuk menyusun secara a priori suatu sistem keputusan akal yang luas dan tingkat tinggi. Corak berpikir yang sangat mendewakan kemampuan akal dalam filsafat dikenal dengan nama aliran rasionalisme.
Rasionalisme secara bahasa berasal dari bahasa latin
ratio artinya pikiran
reason). A.R. Lacey7 menambahkan bahwa berdasarkan akar katanya Rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Sementara itu, secara terminologis aliran ini dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan.E. Tokoh-Tokoh Rasionalisme
1. Rene Descartes
Rene Descartes merupakan filosof Prancis pada abad 16 sampai abad 17 yang ahli matematika, saintis, ilmu alam, ilmu hokum dan kedokteran. ia dilahirkan pada tahun 1596 dan berada dalam didikan sekolah Jesuit yang merupakan tempat penempaan aliran filsafat skolastik. Descartes meniggal pada tahun 1650 di Swedia setelah melakukan pengembaraan yang cukup panjang selama 20 tahun. ia menetap di Belanda dan Swedia.
Barangkali pengembaraan Descartes pada dua negara tersebut disebabkan oleh kebebasan dan keamanan mengembangkan pemikirannya jika dibandingkan di tanah kelahirannya Prancis.
Descartes diberi gelar sebagai bapak filsafat modern (
father of modern philosofhy). Karena ia sikap dan kritisnya terhadap filsafat skolastik yang pernah ia terima selama belajar di sekolah Jesuit dan lebih menggunakan akal sebagai alat penyelidikan filsafat.
Di samping itu ia juga sebagai perintis dan peletak pertama yang memiliki kapasitas berfilsafat tinggi yang dipengaruhi oleh ilmu fisika dan astronomi baru.
Salah satu kritikan Descartes ialah ketidakpuasannya dari aspek adanya ketergantungan filsafat terhadap dalil-dalil filosof terdahulu seperti Aristoteles, sehingga filsafat yang semestinya menggunakan pola berpikir radikal sudah tidak radikal lagi karena penerimaan terhadap pengandaian-pengandain berpikir filosof yang masih diperlukan pembuktian yang mendasar dan lebih metodis untuk menerimanya.
Dalam kesangsian Descartes bahwa filsafat scholastik tak dapat memberikan kepuasan kepada ilmu dan filsafat baru dalam perkembangan masyarakat modern dan acap kali bertentangan antara satu sama lain. Hal itu disebabkan oleh tidak adanya metodos yang jelas.
Untuk merumuskan metode tersebut Franz Magnis menyebutnya sebagai kesangsian metodis yaitu filsafat harus mulai menyangsikan segala-galanya dan semuanya itu untuk mengembalikan filsafat pada sifat radikal dengan kepastian dasariah dan kebenaran yang kokoh (
fundamentum certum et incocussum veritatis) dengan cara metode kesangsian (
le doute metodique).
Tidak boleh ada sesuatu apapun diterima dengan begitu saja, tetapi mesti melihatnya dari sisi apakah filsafat itu mampu bertahan dari segala kesangsian itu.
Kesangsian Descartes lainnya terhadap pemikiran filsafat sebelumnya ialah keberadaan matematika dan metafisika yang berlaku tentang dunia material dan dunia rohani perlu dipertanyakan apakah ia bukan tipuan belaka dari iblis yang sangat cerdik (
genius malignus). Atau tertipu oleh khayalan-khayalan yang tidak bisa dijadikan pegangan, sehingga dibutuhkan kesangsian terhadapnya, meskipun hanya aku yang menyangsikannya, sebab semakin dapat menyangsikan segala sesuatu tentang kebenaran sesuatu, maka kita semakin mengada (
exist). Untuk mencapai kesangsian yan menghantarkan kepada kebenaran harus dengan berpikir, sehingga dikenal ucapan Descartes sebagai bukti rasionalisnya dengan ungkapan ‘aku berpikir, maka aku ada’ (
cogito ergu sum).
Cogito merupakan kebenaran dan kepastian yang tak tergoyahkan karena aku mengerti secara jelas dan terpilah-pilah (
claire et distincte).
Namun kesangsian Descartes hanya dalam metode, bukan berarti keraguan yang bersifat skeptis, tetapi keraguan itu untuk mencapai kebenaran dan kepastian. Maka kepastian yang muncul pada saat menyangsikan segalanya itulah dituntut adanya kesadaran yang menjadi pangkal dari filsafat rasionalisme.
Berhubungan dengan metafisika dalam padangan Descartes bahwa kebenaran dapat ditemukan melalui pikiran sendiri dan melalui dirinya sendiri, tidak melalui kitab suci, dongeng, pendapat orang, prasangka dan lain sebagainya.
Namun Descaretes tidak mengingkari adanya Tuhan dan metafisika lainnya, sebab dalam mencari kebenaran ada ide terang benderang yang disebut Descartes dengan
idée claires et distinctes yang diberikan Tuhan sebelum orang dilahirkan atau ide bawaan yang menuntut kebenaran ide tersebut, sebab ia berasal dari yang Tuhan yang Maha benar yang tidak mungkin memberikan pedoman yang salah.
Lebih jelas uraian Descartes tentang bagaimana memperoleh hasil yang sahih dari metode yang ia canangkan dapat dijumpai dalam bagian kedua dari karyanya Anaximenes Discourse on Methode yang menjelaskan perlunya memperhatikan empat hal berikut ini :
1. Tidak menerima sesuatu apa pun sebagai kebenaran, kecuali bila saya melihat bahwa hal itu sungguh-sungguh jelas dan tegas, sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun yang mampu merobohkannya.
2. Pecahkanlah setiap kesulitan atau masalah itu sebanyak mungkin bagian, sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun yang mampu merobohkannya.
3. Bimbinglah pikiran dengan teratur, dengan memulai dari hal yang sederhana dan mudah diketahui, kemudian secara bertahap sampai pada yang paling sulit dan kompleks.
4. Dalam proses pencarian dan penelaahan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat perhitungan-perhitungan yang sempurna serta pertimbangan-pertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita menjadi yakin bahwa tidak ada satu pun yang terabaikan atau ketinggalan dalam penjelajahan itu.
2. Baruch de Spinoza
Baruch de Spinoza lahir pada tahun 1632 di Amsterdam. Ia sangat mengutamakan pemikiran sehingga dia di usir dari agama Yahudi. Padahal waktu kecil Spinoza dikenal sebagai anak yang cerdas dan diharapkan akan menjadi rabbi. Ketidakpuasan Spinoza terhadap ajaran agama yang dianggapnya kuno dipengaruhi oleh pemikiran Descartes.
Beberapa pendapat Spinoza yang menentang agama pada waktu adalah tentang malaikat hanyalah sebagai imajinasi dan Tuhan itu merupakan bersifat materi. Sehingga pandangan-pandangannya itu menggoyahkan Yahudi dan Kristen.
Sebagai penganut rasionalisme, Spinoza dianggap sebagai orang yang tepat dalam memberikan gambaran tentang apa yang dipikirkan oleh penganut rasionalisme. Ia berusaha menyusun sebuah sistem filsafat yang menyerupai sistem ilmu ukur (geometri). Seperti halnya orang Yunani, Spinoza mengatakan bahwa dalil-dalil ilmu ukur merupakan kebenaran-kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi. Spinoza meyakini bahwa jika seseorang memahami makna yang dikandung oleh kata-kata yang dipergunakan dalam ilmu ukur, maka ia pasti akan memahami makna yang terkandung dalam pernyataan “sebuah garis lurus merupakan jarak terdekat di antara dua buah titik”, maka kita harus mengakui kebenaran pernyataan tersebut. Kebenaran yang menjadi aksioma.
Ajaran-ajaran Spinoza dikenal dengan istilah metode geometris (
more geometrico).
Ini membantah tudingan kaum agamawan yang mengatakan bahwa pemikiran Spinoza hanyalah meolmpat-lompat dan meletup-letup. Selain itu seperti yang sudah penulis jelaskan bahwa Spinoza banyak dipengaruhi oleh Descartes dalam filsafatnya, meskipun dengan temuan akhir yang berbeda dalam istilah.
Descartes menemukan dasar akhir pada
cogito, sedangkan Spinoza ia sebut sebagai substansi.
Substansi adalah sesuatu yang ada pada dirinya sendiri dan dipahami melalui dirinya sendiri. Ini berarti bahwa substansi sebagai sebuah kenyataan mandiri namun tidak lepas dari kenyataan-kenyataan yang lain.
Sebagai implikasi dari ajaran substansi, Spinoza merumuskan pada dua hal yaitu atribut dan modus. Atribut merupakan sesuatu yang ditangkap intelek sebagai hakikat substansi dan modus sebagai hal-hal yang berubah pada substansi. Misalnya Tuhan disebut sebagai substansi maka segala yang dijadikan pertnda adanya Tuhan dengan adanya atribut-atribut.
3. G. W. Leibniz
Gottfried Eilhelm von Leibniz lahir pada tahun 1646 M dan meninggal pada tahun 1716 M. Ia filosof Jerman, matematikawan, fisikawan, dan sejarawan. Lama menjadi pegawai pemerintahan, pembantu pejabat tinggi Negara. Waktu mudanya ahli pikir Jerman ini mempelajari scholastik.
Ia mengenal aliran- aliran filsafat modern dan mahir dalam ilmu. Ia menerima substansi Spinoza akan tetapi tidak menerima paham serba tuhannya (pantesme). Menurut Leibniz substansi itu memang mencantumkan segala dasar kesanggupannya, dari itu mengandung segala kesungguhan pula. Untuk menerangkan permacam- macam didunia ini diterima oleh Leibniz yang disebutnya monad (monos = satu = satu unit). Monad jika dianalogikan dengan ilmu lain sama dengan titik pada matematika sebab dia yang terkecil atau yang terkecil dalam fisika disebut atom Monaden ini semacam cermin yang membayangkan kesempurnaan yang satu itu dengan cara sendiri.
F. Kesimpulan
Rasionalisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang berpendirian bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah akal. Rasionalisme tidak mengingkari peran pengalaman, tetapi pengalaman dipandang sebagai perangsang bagi akal atau sebagai pendukung bagi pengetahuan yang telah ditemukan oleh akal. Akal dapat menurunkan kebenaran-kebenaran dari dirinya sendiri melalui metode deduktif. Rasionalisme menonjolkan “diri” yang metafisik, ketika Descartes meragukan “aku” yang empiris, ragunya adalah ragu metafisik. Metode yang digunakan adalah metode deduktif.
Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang berpendapat bahwa empiri atau pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan. Akal bukanlah sumber pengetahuan, akan tetapi akal berfungsi mengolah data-data yang diperoleh dari pengalaman. Metode yang digunakan adalah metode induktif. Jika rasionalisme menonjolkan “aku” yang metafisik, maka empirisme menonjolkan “aku” yang empiris. Empirisme memegang peranan yang amat penting bagi pengetahuan, malah barangkali merupakan satu-satunya sumber dan dasar ilmu pengetahuan menurut penganut Empirisme. Pengalaman inderawi sering dianggap sebagai pengadilan yang tertinggi.
DAFTAR KEPUSTAKAAN