Sabtu, 07 Mei 2011

buletin II

KOPIAH : IDENTITAS AGAMA DAN NASIONALISME
Oleh : Heri Surikno *

Identitas dalam kamus popoler memiliki beberapa arti, antara lain ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang atau jati diri. Seperti dalam istilah umum, bahwa pancasila sebagai identitas kepribadian masyarakat Indonesia, maksudnya ialah bahwa ciri-ciri masyarakat Indonesia ialah yang menjadikan pancasila sebagai jati dirinya. Begitu juga dengan KTP yang disebut sebagai kartu identitas. Pengertiannya bahwa ciri-ciri tentang seseorang dapat dilihat dalam kartu tanda pengenal itu. Maka yang dimaksudkan dengan identitas pesantren dalam tulisan ini adalah ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh pesantren dan tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain yaitu kopiah.
Lantas pertanyaannya, apakah berkopiah bisa disebut sebagai identitas yang akan melekat sebagai jati diri? Sehingga dengan hal itu akan menyebabkan seseorang akan memiliki jati diri khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain? Sementara pada sisi lain kebanyakan orang menganggap bahwa kopiah merupakan sesuatu yang ketinggalan zaman dan hanya pantas di pakai oleh orang-orang yang sudah berumur, maka akan digelari jadul ketika ada anak muda yang berkopiah. Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, sangat penting untuk kita kaji lebih sejarah kopiah, khususnya di Indonesia.
Pada tahun 1908 yang merupakan awal pergerakan nasional, para pemuda dan aktifis yang tergabung dalam kelompok-kelompok pelajar dan pemuda kebanyakan mereka masih memakai daster dan tutup kepala blangkon (seperti Jendral Sudirman dan Budi Utomo). Tradisi ini merupakan ciri khas masyarakat priyayi dan aristokrat yang juga bias disebut sebagai simbol pembeda masyarakat elit dan masyarakat biasa yang diciptakan oleh penjajah.
Seiring semakin meluasnya semangat nasionalisme yang digadang-gadang oleh kaum terpelajar dan pemuda Indonesia dan semangat untuk menantang penjajahan serta system feodalisme yang mengagung-agungkan pangkat dan jabatan berubah menjadi semangat sama rasa dan persatuan yang mengedepankan kepentingan Bangsa. Maka dalam semua semangat itu keberadaan tokoh yang menjadi panutan, idola sekaligus guru menjadi penting perannya. Hal itu terlihat dari adanya asumsi yang menyebutkan bahwa Tjokroaminoto sebagai aktifis pergerakan dan guru di kalangan para pemuda Indonesia pada waktu itu selalu memakai kopiah dalam semua aktifitas pergerakannya, salah seorang muridnya ialah Soekarno, presiden pertama Indonesia.
Namun yang penting untuk menjadi catatan kita, bahwa sesungguhnya tradisi kopiah sudah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan pesantren yang masanya lebih dahulu dari pergerakan pemuda dan pelajar pada tahun 1908 itu. Kesimpulan ini dapat dibenarkan dengan dua argumentasi, pertama, pesantren yang merupakan symbol pengembangan Islam sudah terlebih dahulu hidup dan tumbuh dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena masyarakatnya sudah banyak yang memeluk agama Islam, meskipun pesantren dalam pengertian sebagai pusat pengajaran agama yang masih jauh dari defenisi pesantren hari ini. Kedua ini membuktikan partisipasi aktif pesantren dengan keterlibatan para kiyai dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan, sehingga keberadaan mereka menjadi panutan dari kaum pelajar dan pemuda pada waktu itu.
Maka ada beberapa fungsi inti dari berkopiah dalam semangat masa lalu yang mesti tetap dijadikan identitas antara lain ; pertama kopiah merupakan symbol Islamisasi yaitu kopiah sebagai penanda seseorang beragama Islam atau bukan. Kedua, kopiah sebagai symbol patriotisme dan nasionalisme yaitu kopiah sebagai pembeda antara pejuang kemerdekaan yang anti penjajah dan jauh dari sikap feodal yang terlalu dangkal dalam memandang manusia hanya dari pangkat dan jabatan atau kopiah sebagai penanda orang-orang lebih mencari muka kepada Belanda.
Selain beberapa hal itu, jika dilihat dari aspek keIslaman juga dapat dilihat bagaimana fungsi dan kedudukan kopiah bagi seorang muslim. Kopiah pada ghalibnya tidak dipakai oleh semua orang, tetapi lebih identik dengan ahli agama, sehingga dianggap kurang sopan ketika ada ahli agama yang tidak menutup kepada dalam pergaulan keseharian tanpa penutup kepada seperti kopiah, dan orang yang berkopiah dalam pandangan masyarakat awam merupakan orang yang lebih popular dari orang tidak berkopiah. Bahkan dalam perspektif fiqih ada ulama yang berpendapat bahwa seorang bapak belum boleh menjadi wali pernikahan pada seorang wanita yang berada dalam perwaliannya, karena tidak memakai penutup kepada bagi pria dewasa adalah sesuatu yang melanggar aturan masyarakat yang bisa membawa seseorang tidak lagi bisa disebut adil dalam pengertian agama, sehingga orang yang tidak adil belum boleh menjadi wali pernikahan.  
Mencermati semua nilai dan dampak dari kopiah pada masa lalu, maka keberadaan kopiah hari ini dikembalikan pada khittah semula dalam rangka mencari jati diri terutama di kalangan orang-orang yang berada dalam kehidupan pesantren. Sebab kopiah yang lahir dari kehidupan pesantren sekarang sudah dijadikan sebagai atribut nasional yang dipakai tidak hanya orang Islam saja, namun bagi semua orang yang pada maklumnya melaksanakan sesuatu yang bersifat tugas seperti pelantikan pejabat, rapat-rapat resmi dan lain sebagainya.
Namun terlepas dari keberadaan kopiah sebagai salah satu pakaian nasional, pesantren selalu mengembangkan tradisi masa lalu yang memang bermula dari kalangan pesantren sendiri meskipun tidak dalam setiap waktu, minimal ketika berada dalam lingkungan pesantren dan melaksanakan shalat lima waktu. Karena kopiah sebagai tradisi pesantren dalam perjalanannya mungkin mengalami pasang surutnya, maka pesantren memiliki tanggung jawab moral untuk mempertahankan tradisi yang mengandung nilai-nilai kebajikan dalam pandangan aturan masyarakat dan terlebih aturan agama, sebab kalau bukan pesantren, siapa lagi yang akan melestarikan tradisi itu?
* Pengajar Ponpes Sabilul Jannah
SAHABAT

Lutri Wahyuni *

di bangku madrasah
awal persahabatan kita
kau tersenyum ramah
mengajak ku bercerita

persahabatan kita indah
dan banyak cerita
bermain bersama
dan belajar bersama

dahulu hanya sebatas sahabat
tanpa ada rasa yang terendap
namun kini
sejak kau pergi
hatiku sedih dan tersakiti

dan ku yakin kau takkan kembali
sesal itu kini menyelimuti
segala mimpi-mimpi pasti
dan ku ingin kau kembali

pada siapa ku mencari
sosok jati diri yang berarti
sampai aku disini sengsara
tak relakan perjalanan cinta


Timbulun, 14/01/2011
* Santri kelas X Ponpes Sabilul Jannah




Edri Oktaria Putra *

“Gagal adalah jalan menuju sukses, Jadi…
Orang yang sukses tanpa mencicipi kegagalan, Maka akan merasa sombong dengan apa yang dimilikinya”
“Sungguhlah dalam mencapai suatu keinginan besar, karena yang dituntut dari keinginan besar itu bukanlah hasilnya tapi kesungguhannya, karena usaha tidak akan berhasil tanpa kesungguhan…”
“Malas adalah penghambat untuk mencapai sukses, karena kebanyakan dari orang sukses itu adalah orang-orang yang berhasil mengalahkan malasnya”
“Yang lebih mahal dalam hidup ini adalah jujur, Beribu kejujuran akan menjadi tidak berharga dengan satu kebohongan”
“Jangan merasa puas dengan keberhasilan yang kamu capai, Tapi, merasa puaslah atas kegagalan yang dating karena kesalahan yang tidak disengaja”
“Sahabat yang baik adalah sahabat yang tidak bertentangan sifat lahir dengan sifat batinnya”
“Bagi kebanyakan orang-orang kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Tapi bagi saya,
Kegagalan adalah keberhasilan yang belum sempurna, karena kesalahan yang tidak disengaja”
“diam dari kata-kata yang jelek, itu emas, berkata dengan kata-kata yang baik lagi emas”

* santri kelas XII Ponpes Sabilul Jannah




Kasih Sayang Ibu
Oleh : Rahayu Nengsih *

ibu…
kasih sayangmu padaku
takkan bias kuhitung
dengan apapun juga

ibu…
demi sayangmu padaku
engkau rela banting tulang
demi memberiku makan
ibu…
maafkan aku
telah durhaka padamu
dan sekarang aku tahu
besarnya jasa ibu

ibu…
sekarang akujauh darimu
namun aku akan selalu
mengingat jasa-jasamu

Timbulun,18/01/2011

*santri kelas VII Ponpes Sabilul Jannah


“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan Ini untuk perumpamaan?." dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”. (surat al-Baqarah : 26)
Membaca apa yang tercipta merupakan kemestian bagi orang yang beriman. Setidaknya hal itulah yang Allah gambarkan secara lahiriah dalam surat al-baqarah ayat ke 26 ini. Memahami apa yang tercipta, tidak hanya terbatas pada kejadian makhluk, namun lebih luas dapat dipahami segala peristiwa yang melingkupi semua kehidupan makhluk itu, dalam skala kecil ataupun besar. Karena dengan memikirkan kejadian nyamuk, orang akan berpikir bagaimana agar tidak di ganggu nyamuk ketika tidur, karena jatuhnya sebuah apel, maka muncul teori gravitasi bumi dan sebagainya.
Lutri Wahyuni dan Edri Oktaria Putra sudah berusaha untuk memasuki dunia membaca kemudian menuliskan, dengan memperhatikan kenyataan kehidupan yang dilihat, diamati dan dirasakannya, kenyataan tidak perlu dilihat dari apakah pengalaman pribadi ataupun mengamati orang lain.
“Sahabat” mencoba menggambarkan kepada kita tentang ketiadaan, kekosongan dan kesenyapan yang bermula dari kejujuran menjalani kehidupan dan keikhlasan menerima orang lain apa adanya, sehingga kejujuran dan keikhlasan itulah yang menyebabkan adanya rindu yang beberapa waktu orang sadari sebagai harapan untuk menjalani masa depan yang lebih bermakna, tetapi tentu bukan keputusasaan yang selalu diakhiri dengan kata ‘tidak mungkin’.
Tak ada sedikitpun dari penciptaan yang bersifat sia-sia, apakah itu sederhana atau yang lebih rumit untuk dipahami, namun yang terpenting dari sebuah peristiwa bukanlah hasil dari pemahaman, namun kesungguhan dalam memahami ciptaan itu.
Edri mencoba memberi kesadaran yang lebih dalam untuk memahami setiap peristiwa kehidupan. kehidupan memang rumit dan aneh seperti halnya kerumitan dan keanehan manusia sebagai pelaku kehidupan itu sendiri. Dalam setiap orang yang berbeda sudah pasti dengan sikap yang berbeda, bahkan dalam satu diri, juga akan sangat mungkin munculnya ketidaksamaan dalam menyikapi sesuatu. Maka yang penting dari semua peristiwa adalah cara menyikap agar tidak ada kesia-siaan dalam setiap peristiwa kehidupan. So…? Masih banyak waktu bagi kita semua untuk belajar dan belajar tentang apa saja. alam takambang jadi guru (radaksi)

buletin majelis tarbiyah islamiyah I


Buletin I
مجالس التربية الاسلامية
Majelis Tarbiyah Islamiyah
Membaca yang tersurat, memahami yang tersirat dan memaknai yang tersuruk serta beramal dengan ma’rifat
 


Saya dan Nasruddin Hoja
Heri Soerikno *

Berbicara tentang humor dalam sejarah Islam yang mengajarkan kearifan dan sarat dengan nilai-nilai luhur tentu Abu Nawas merupakan sosok yang paling dikenal sampai hari ini. Namun masih ada seorang sufi yang sama dengan Abu Nawas yang juga hidup pada masa kejayaan Islam, meskipun pada masa yang berbeda, yaitu Nasruddin Hoja.
Judul ini tidaklah pantas jika dilihat dari kerangka ilmiah, baik dari sudut bahasa apalagi dari sudut isi. Penggunaan kata penghubung ‘dan’ dalam bahasa Indonesia merupakan sesuatu yang memiliki banyak persamaan, maka sudah pasti tidaklah mungkin mengukur kesamaan antara saya dengan Nasruddin Hoja.
Ada beberapa alasan ketidakmungkinan itu, pertama dari sisi waktu Hoja hidup pada abad ke-19 pada masa kerajaan Turki Usmani, sedangkan saya hidup pada abad ke-21 di Indonesia. Kedua dari factor keilmuan, Hoja seorang ilmuan dan sufi pada masanya sehingga dikenang dan dijadikan rujukan ilmu bagi umat hari ini, sementara saya hanya berpedoman pada apa yang disampaikan Hoja tentang kearifan berpikir, bersikap dan bertindak.
Meskipun begitu, ini menjadi bukti keutamaan pemikiran yang sarat dengan nilai-nilai kebenaran yang universal, ia akan tetap hidup melintasi masa dan waktu meskipun si pememilik pemikiran itu sudah mati. Namun secara lebih sederhana tulisan ini hanya mencoba menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Hoja tentang semua aspek kehidupan beragama yang pernah dikritisi pada masanya. Nah barangkali hanya pada semangat saja ada persamaan antara saya dan Hoja.
Nasruddin Hoja lahir pada tahun 1208 di desa Hortu (sekarang disebut dengan nama Nasreddin Hoca Koyu) Turki dan meninggal tahun 1284 di Aksehir. Tidak banyak data yang menjelaskan tentang bagaimana kehidupan Hoja yang sesungguhnya karena keterbatasan bukti tertulis yang bisa dijadikan rujukan bagaimana perjalanan kehidupan Hoja. Hal itu disebabkan oleh beberapa factor, yaitu bahwa sebagian sejarawan memandang bahwa Hoja hanyalah fiktif belaka sebagai hasil kejayaan sastra pada masa Turki Usmani berkuasa, namun sebagian sejarawan melihat Hoja merupakan sejarah masa lampau dengan adanya bukti-bukti yang bias dijadikan bukti keberadaan Hoja.
Pada abad ke 19 Mufti Sivrihisar, Huseyin Efendi, menulis dalam Mejmua-i Maarif bahwa Hoja belajar di SIvrihisar dan madrasah Konya. Hoja belajar fiqh serta belajar tasawuf langsung pada Mawlana Jala al-Din al-Rumi (1207-1273) di Konya. Kemudian Hoja mengikuti Seyyeid Mahmud Hayrani, sebagi guru sufi keduanya, hijrah ke Aksehir dan menikah di sana.
Sosok Hoja dikenal sebagai tokoh sufi yang kocak dan penuh dengan makna sufistik, filosofis, menggelitik nalar dan hati nurani. Tanda-tanda kelucuan yang dimilki oleh Hoja sudah terlihat semenjak ia muda, hal itu menyebabkan pengaruh kelalaian teman-temannya untuk belajar di sekolah, namun lebih menarik ketika mendengarkan ulah dan tingkah laku lucu yang bijak dari Hoja. Memperhatikan tingkah laku Hoja, maka gurunya Seyyeid Mahmud Hayrani berkata “kelak ketika engkau sudah dewasa, engkau akan menjadi orang yang bijak. Tetapi sebijak apa pun kata-katamu, namun orang-orang akan tetap menertawaimu”.
Hal itu kelak ketika Hoja dewasa menjadi kenyataan, itu terbukti dengan diangktanya Hoja sebagai hakim dan imam di Aksehir. Ketersohoran Hoja tidak hanya karena ia duduk dalam struktur pemerintahan, tetapi karena humornya yang tinggi dengan penjelasan-penjelasan yang cemerlang dan tidak semua orang yang mampu memahami dengan mudah yang disampaikan oleh Hoja.
Dalam buletin ini saya akan menuliskan beberapa humor yang disampaikan oleh Hoja pada masanya dengan ulasan dan analisa sederhana, agar pemikiran Hoja tidak menjadi pemikiran yang berada pada ruang hampa dan memiliki nilai relevansi untuk kehidupan kita hari ini. Tentu dalam segala keterbatasan yang saya miliki.
Pada satu kali pelaksanaan shalat Jum’at, Nasrudin menjadi imam Shalat Jum'at. Namun belum lama ia berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang Mullah,
"Api ! Api ! Api !" Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya, "Dimana apinya, Mullah ?"
Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya, "Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah."

* Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Jannah

Rabu, 27 April 2011

tafakkaruu


SUMBER-SUMBER PENGETAHUAN
(EMPIRISME DAN RASIONALISME)
Oleh : Heri Surikno


A.    Pendahuluan
Kemunculan sebuah pemikiran tidak bisa lepas dari nilai yang mempengaruhi dari peristiwa dan pemikiran yang hdiup dan berkembang sebelumnya. Juga halnya dengan empirisme dan rasionalisme, kedua konsep pengetahuan ini tidaklah berada para ruang hampa yang tidak mengakar pada realitas pemikiran sebelumnya.
Rasionalisme yang lahir satu abad setelah masa krisis abad pertengahan yang disebut dengan renaissance pada abad ke 15 samapai abad 16. kemunculan rasionalisme merupakan elaborasi ketidakpuasan terhadap pemikiran skolastik yang berkembang sebelumnya, sekaligus kritikan Descartes sebagai bapak filsafat modern yang pernah belajar filsafat skolastik.
Sementara empirisme lahir sebagai kritik dan ketidakpuasan metode yang dipakai rasionalisme dalam mencari kebenaran. Salah satu kritikannya adalah bahwa tidak sepenuhnya benar apa yang berasal dari akal, bahkan akal mungkin menipu dalam segala pembuktiannya.
Maka pada makalah ini penulis akan memaparkan tentang beberapa pemikiran empirisme dan rasionalisme serta beberapa tokoh pemikir keduanya secara gambling, dengan harapan bisa menjadi bahan dasar untuk didiskusikan lebih lanjut.

B.     Kemunculan Empirisme
Para pemikir di Inggris bergerak ke arah yang berbeda dengan tema yang telah dirintis oleh Descartes. Mereka lebih mengikuti Jejak Francis Bacon, yaitu aliran empirisme. Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peran akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani empeiria yang berarti pengalaman atau coba-coba. Sementara menurut A.R. Lacey berdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera.[1]
Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Akan tetapi tidak berarti bahwa rasionalisme ditolak sama sekali. Dapat dikatakan bahwa rasionalisme dipergunakan dalam kerangka empirisme, atau rasionalisme dilihat dalam bingkai empirisme.
Ada banyak filosof yang memiliki metode berpikir empiris, namun pada makalah ini penulis hanya menjelaskan beberapa orang saja yang dianggap paling memilki kontribusi besar dalam pengembangan filsafat empirisme. Mereka antara lain Thomas Hobbes, John Locke, David Hume dan Herbert Spencer.

C.    Tokoh-Tokoh Empirisme
1.      Thomas Hobbes (1588-1679)
Thomas Hobbes hidup pada masa malapetaka perang saudara di Inggris antara kubu Charles I dan kubu parlemen pada abad ke-17. malapetaka ini dimenangkan oleh pihak parlemen yang sekaligus mengakhiri masa kekuasaan Charles I sekaligus mengakhiri kehidupannya karena ia mati digantung oleh pihak yang menang.
Hobbes memiliki keistimewaan yang berbeda jika dibandingkan dengan yang lain di masanya. Hal itu terlihat dari pada saat ia kuliah di Universitas Oxpord selain menjadi mahasiswa sekaligus menjadi asisten dosen pribadi keluarga bangsawan Chavendish. Minatnya dalam membaca karya-karya klasik seperti menerjemahkan karya Thucydides dan puisi Iliad dan Odysey karya Homerus sebagai penyair termasyhur zaman Yunani. Bahkan dia sempat berkontak dengan Galileo dan menjadi sekretaris Francis Bacon.[2]
Thomas Hobbes dikenal sebagai pendiri filsafat mandiri, karena ia berpendapat bahwa filsafat tidak berurusan dengan hal-hal yang bersifat teologis atau segala sesuatu yang berada dalam ruang lingkup agama.[3] Pendapat ini ia munculkan karena melihat dari sejarah filsafat dari masa renaissance banyak filosof yang sulit membedakan antara filsafat dan teologi, di samping filsafat juga sudah terlalu banyak disusupi oleh gagasan religius.
Penolakan Hobbes terhadap pencampuran filsafat dengan teologi karena ia melihat bahwa objek kajian dan metode menbuktikan sesuatu berbeda antara agama dan filsafat. Filsafat lebih melihat pada objek lahiriah yang bergerak beserta cirri-cirinya atau hal-hal yang dapat dialami oleh tubuh manusia. Sedangkan agama membicarakan substansi yang tidak berubah dan tidak bergerak, seperti Tuhan, malaikat dan roh yang kesemua itu tidak dapat dibuktikan dengan empirik manusia.
Pemikiran Hobbes lebih dititik beratkan pada bahwa kenyataan terakhir adalah kenyataan indrawi yaitu kenyataan material yang bisa dialami. Sebab menurut Hobbes bahwa yang menjadi asas pertama adalah materi dan gerak, maka tidak masuk kedalamnya konsep-konsep spiritual seperti yang diajarkan agama karena tidak terdapat dalam pengalaman kita.[4] Konsep berpikir seperti ini kemudian yang menghantarkan Hobbes pada kesimpulan bahwa pengetahuan harus berdasarkan pada pengalaman dan observasi.
Maka dapat disimpulkan dari filsafat Thomas Hobbes bahwa pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengetahuan. Hanya sesuatu yang dapat disentuh dengan inderalah yang merupakan kebenaran. Pengetahuan kita tak mengatasi pengindraan dengan kata lain pengetahuan yang benar hanyalah pengetahuan indera saja, yang lain tidak. Ada yang menyebut Hobbes itu menganut sensualisme, karena ia amat mengutamakan sensus (indra) dalam pengetahuan. Tetapi dalam hubungan ini tentulah ia anggap salah satu dari penganut empirisme, yang mengatakan bahwa persantuhan dengan indera (empirik) itulah yang menjadi pangkal dan sumber pengetahuan.
2.      John Locke (1632-1704)
John locke dilahirkan di Wrington, dekat Bristol, Inggris. Ia adalah filosof yang banyak mempelajari agama Kristen. Disamping sebagai seorang ahli hukum ia juga menyukai filsafat dan teologi, mendalami ilmu kedokteran, dan penelitian kimia. Dalam mencapai kebenaran, sampai seberapa jauh (bagimana) manusia memakai kemampuannya.
John Locke sebagai filosof empirisme berpandangan bahwa pengalaman atau empirisme itulah yang menjadi sumber segala pengetahuan, sebab tanpa adanya pengalaman, pengetahuan tidak bisa didapat dengan sebenarnya.[5] Ajaran Locke lainnya tentang apa yang kita ketahui tentang pengalaman itu bukanlah objek atau benda yang mau kita ketahui sendiri, melainkan kesan-kesannya pada panca indra.[6]
Sehingga dengan dua ajarannya ini dikenal istilah sensation dan refleksion. Sensation adalah kemampuan pengetahuan manusia sampai kemanakah ia dapat mencapai kebenaran dan bagimanakah mencapainya itu, sedangkan reflektion  adalah pengenalan intuitif yang memberikan pengetahuan kepada manusia, yang lebih baik daripada sensation.
Dalam pandangan filsafat empirisnya, Jphn Locke memberikan kritikan dan argument terhadap ajaran filsafat rasionalisme. Beberapa kesimpulan bantahan argument itu antara lain[7] :
a.       Dari jalan masuknya pengetahuan kita mengetahui bahwa innate (dalam pandangan Descartes disebut dengan apriori) itu tidak ada, memang agak umum orang beranggapan bahwa innate itu ada. Ia itu seperti ditempelkan pada jiwa manusia, dan jiwa membawanya ke dunia ini. Sebenarnya kenyataan telah cukup menjelaskan kepada kita bagaimana pengetahuan itu datang, yakni melalui daya-daya yang alamiah tanpa bantuan kesan-kesan bawaan, dan kita sampai pada keyakinan tanpa suatu pengertian asli.
b.      Persetujuan umum adalah argument yang terkuat. Tidak ada sesuatu yang dapat disetujui oleh umum tentang adanya innate idea justru dijadikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.
c.       Persetujuan umum membuktikan tidak adanya innate idea.
d.      Apa innate itu sebenarnya tidaklah mungkin diakui dan sekaligus juga tidak diakui adanya. Bukti-bukti yang mengatakan ada innate itu ada justru saya jadikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.
e.       Tidak juga dicetakkan (distempelkan) pada jiwa sebab pada anak idiot ide yang innate itu tidak ada padahal anak normal dan akan “idiot sama-sama berpikir”.
Pada masa Locke, filsafat mengalami perubahan arah. Jika rasionalisme Descartes mengajarkan bahwa pengetahuan yang paling berharga tidak berasal dari pengalaman, maka menurut Locke, pengalamanlah yang menjadi dasar dari segala pengetahuan. Namun demikian, empirisme dihadapkan pada sebuah persoalan yang sampai begitu jauh belum bisa dipecahkan secara memuaskan oleh filsafat. Persoalannya adalah menunjukkan bagaimana kita mempunyai pengetahuan tentang sesuatu selain diri kita dan cara kerja pikiran itu sendiri.
3.      David Hume (1711-1776)
David Hume lahir di Edinburg, Skotlandia pada 1711. Ia pun menempuh pendidikannya di sana. Keluarganya berharap agar ia kelak menjadi ahli hukum, tetapi Hume hanya menyenangi filsafat dan pengetahuan. Setelah dalam beberapa tahun belajar secara otodidak, ia pindah ke La Flèche, Prancis (tempat di mana Descartes menempuh pendidikan).34 Sejak itu pula hingga wafatnya 1776 ia lebih banyak menghabiskan waktu hidupnya di Prancis.
 Dalam ajaran filsafat empirisme Hume bahwa apa saja yang merupakan pengetahuan itu hanya disebabkan oleh pengalaman. Adapun yang bersentuhan dengan indra kita itu sifat-sifat atau gejala-gejala dari hal tersebut. Yang menyebabkan kita mempunyai pengertia sesuatu yang tetap – substansi – itu tidak lain dari perulangan pengalaman yang demikian acap kalinya, sehingga kita menganggap mempunyai pengertian tentang suatu hal, tetapi sebetulnya tidak ada substansi itu hanya anggapan, khayal, sebenarnya tidak ada.[8]
Ajaran Hume disebut dengan nihil est intelectu quod non antea fuerit in sensu” yang berarti, “tidak ada satu pun ada dalam pikiran yang tidak terlebih dahulu terdapat pada data-data inderawi”[9]. Namun untuk mengetahui sesuatu penting untuk dibedakan antara kesan dan ide. Kesan merupakan penginderaan langsung atas realitas lahiriah, sementara ide adalah ingatan atas kesan-kesan. Menurutnya, kesan selalu muncul lebih dahulu, sementara ide sebagai pengalaman langsung tidak dapat diragukan. Dengan kata lain, karena ide merupakan ingatan atas kesan-kesan, maka isi pikiran manusia tergantung kepada aktivitas inderanya.
Sehingga David Hume berpndangan bahwa pikiran kita bekerja berdasarkan tiga prinsip pertautan ide. Pertama, prinsip kemiripan yaitu mencari kemiripan antara apa yang ada di benak kita dengan kenyataan di luar. Kedua, prinsip kedekatan yaitu kalau kita memikirkan sebuah rumah, maka berdasarkan prinsip kedekatan kita juga berpikir tentang adanya jendela, pintu, atap, perabot sesuai dengan gambaran rumah yang kita dapatkan lewat pengalaman inderawi sebelumnya. Ketiga, prinsip sebab-akibat yaitu jika kita memikirkan luka, kita pasti memikirkan rasa sakit yang diakibatkannya




D.    Kemunculan Rasionalisme
Usaha manusia untuk memberi kemandirian kepada akal sebagaimana yang telah dirintis oleh para pemikir renaisans, masih berlanjut terus sampai abad ke-17. Abad ke-17 adalah era dimulainya pemikiran-pemikiran kefilsafatan dalam artian yang sebenarnya. Semakin lama manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar terhadap kemampuan akal, bahkan diyakini bahwa dengan kemampuan akal segala macam persoalan dapat dijelaskan, semua permasalahan dapat dipahami dan dipecahkan termasuk seluruh masalah kemanusiaan.
Keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan akal telah berimplikasi kepada perang terhadap mereka yang malas mempergunakan akalnya, terhadap kepercayaan yang bersifat dogmatis seperti yang terjadi pada abad pertengahan, terhadap norma-norma yang bersifat tradisi dan terhadap apa saja yang tidak masuk akal termasuk keyakinan-keyakinan dan serta semua anggapan yang tidak rasional.[10]
Dengan kekuasaan akal tersebut, orang berharap akan lahir suatu dunia baru yang lebih sempurna, dipimpin dan dikendalikan oleh akal sehat manusia. Kepercayaan terhadap akal ini sangat jelas terlihat dalam bidang filsafat, yaitu dalam bentuk suatu keinginan untuk menyusun secara a priori suatu sistem keputusan akal yang luas dan tingkat tinggi. Corak berpikir yang sangat mendewakan kemampuan akal dalam filsafat dikenal dengan nama aliran rasionalisme.
Rasionalisme secara bahasa berasal dari bahasa latin ratio artinya pikiran reason). A.R. Lacey7 menambahkan bahwa berdasarkan akar katanya Rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Sementara itu, secara terminologis aliran ini dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan.[11]
E.     Tokoh-Tokoh Rasionalisme
1.      Rene Descartes
Rene Descartes merupakan filosof Prancis pada abad 16 sampai abad 17 yang ahli matematika, saintis, ilmu alam, ilmu hokum dan kedokteran. ia dilahirkan pada tahun 1596 dan berada dalam didikan sekolah Jesuit yang merupakan tempat penempaan aliran filsafat skolastik. Descartes meniggal pada tahun 1650 di Swedia setelah melakukan pengembaraan yang cukup panjang selama 20 tahun. ia menetap di Belanda dan Swedia.[12] Barangkali pengembaraan Descartes pada dua negara tersebut disebabkan oleh kebebasan dan keamanan mengembangkan pemikirannya jika dibandingkan di tanah kelahirannya Prancis.
Descartes diberi gelar sebagai bapak filsafat modern (father of modern philosofhy). Karena ia sikap dan kritisnya terhadap filsafat skolastik yang pernah ia terima selama belajar di sekolah Jesuit dan lebih menggunakan akal sebagai alat penyelidikan filsafat.[13] Di samping itu ia juga sebagai perintis dan peletak pertama yang memiliki kapasitas berfilsafat tinggi yang dipengaruhi oleh ilmu fisika dan astronomi baru.
Salah satu kritikan Descartes ialah ketidakpuasannya dari aspek adanya ketergantungan filsafat terhadap dalil-dalil filosof terdahulu seperti Aristoteles, sehingga filsafat yang semestinya menggunakan pola berpikir radikal sudah tidak  radikal lagi karena penerimaan terhadap pengandaian-pengandain berpikir filosof yang masih diperlukan pembuktian yang mendasar dan lebih metodis untuk menerimanya.
Dalam kesangsian Descartes bahwa filsafat scholastik tak dapat memberikan kepuasan kepada ilmu dan filsafat baru dalam perkembangan masyarakat modern dan acap kali bertentangan antara satu sama lain. Hal itu disebabkan oleh tidak adanya metodos yang jelas.[14] Untuk merumuskan metode tersebut Franz Magnis menyebutnya sebagai kesangsian metodis yaitu filsafat harus mulai menyangsikan segala-galanya dan semuanya itu untuk mengembalikan filsafat pada sifat radikal dengan kepastian dasariah dan kebenaran yang kokoh (fundamentum certum et incocussum veritatis) dengan cara metode kesangsian (le doute metodique).[15] Tidak boleh ada sesuatu apapun diterima dengan begitu saja, tetapi mesti melihatnya dari sisi apakah filsafat itu mampu bertahan dari segala kesangsian itu.
Kesangsian Descartes lainnya terhadap pemikiran filsafat sebelumnya ialah keberadaan matematika dan metafisika yang berlaku tentang dunia material dan dunia rohani perlu dipertanyakan apakah ia bukan tipuan belaka dari iblis yang sangat cerdik (genius malignus). Atau tertipu oleh khayalan-khayalan yang tidak bisa dijadikan pegangan, sehingga dibutuhkan kesangsian terhadapnya, meskipun hanya aku yang menyangsikannya, sebab semakin dapat menyangsikan segala sesuatu tentang kebenaran sesuatu, maka kita semakin mengada (exist). Untuk mencapai kesangsian yan menghantarkan kepada kebenaran harus dengan berpikir, sehingga dikenal ucapan Descartes sebagai bukti rasionalisnya dengan ungkapan ‘aku berpikir, maka aku ada’ (cogito ergu sum).[16]
Cogito merupakan kebenaran dan kepastian yang tak tergoyahkan karena aku mengerti secara jelas dan terpilah-pilah (claire et distincte).  Namun kesangsian Descartes hanya dalam metode, bukan berarti keraguan yang bersifat skeptis, tetapi keraguan itu untuk mencapai kebenaran dan kepastian. Maka kepastian yang muncul pada saat menyangsikan segalanya itulah dituntut adanya kesadaran yang menjadi pangkal dari filsafat rasionalisme.[17]
Berhubungan dengan metafisika dalam padangan Descartes bahwa kebenaran dapat ditemukan melalui pikiran sendiri dan melalui dirinya sendiri, tidak melalui kitab suci, dongeng, pendapat orang, prasangka dan lain sebagainya.[18] Namun Descaretes tidak mengingkari adanya Tuhan dan metafisika lainnya, sebab dalam mencari kebenaran ada ide terang benderang yang disebut Descartes dengan idée claires et distinctes yang diberikan Tuhan sebelum orang dilahirkan atau ide bawaan yang menuntut kebenaran ide tersebut, sebab ia berasal dari yang Tuhan yang Maha benar yang tidak mungkin memberikan pedoman yang salah.
Lebih jelas uraian Descartes tentang bagaimana memperoleh hasil yang sahih dari metode yang ia canangkan dapat dijumpai dalam bagian kedua dari karyanya Anaximenes Discourse on Methode yang menjelaskan perlunya memperhatikan empat hal berikut ini :
1.      Tidak menerima sesuatu apa pun sebagai kebenaran, kecuali bila saya melihat bahwa hal itu sungguh-sungguh jelas dan tegas, sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun yang mampu merobohkannya.
2.      Pecahkanlah setiap kesulitan atau masalah itu sebanyak mungkin bagian, sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun yang mampu merobohkannya.
3.      Bimbinglah pikiran dengan teratur, dengan memulai dari hal yang sederhana dan mudah diketahui, kemudian secara bertahap sampai pada yang paling sulit dan kompleks.
4.      Dalam proses pencarian dan penelaahan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat perhitungan-perhitungan yang sempurna serta pertimbangan-pertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita menjadi yakin bahwa tidak ada satu pun yang terabaikan atau ketinggalan dalam penjelajahan itu.



2.      Baruch de Spinoza
Baruch de Spinoza lahir pada tahun 1632 di Amsterdam. Ia sangat mengutamakan pemikiran sehingga dia di usir dari agama Yahudi. Padahal waktu kecil Spinoza dikenal sebagai anak yang cerdas dan diharapkan akan menjadi rabbi. Ketidakpuasan Spinoza terhadap ajaran agama yang dianggapnya kuno dipengaruhi oleh pemikiran Descartes.[19]
Beberapa pendapat Spinoza yang menentang agama pada waktu adalah tentang malaikat hanyalah sebagai imajinasi dan Tuhan itu merupakan bersifat materi. Sehingga pandangan-pandangannya itu menggoyahkan Yahudi dan Kristen.
Sebagai penganut rasionalisme, Spinoza dianggap sebagai orang yang tepat dalam memberikan gambaran tentang apa yang dipikirkan oleh penganut rasionalisme. Ia berusaha menyusun sebuah sistem filsafat yang menyerupai sistem ilmu ukur (geometri). Seperti halnya orang Yunani, Spinoza mengatakan bahwa dalil-dalil ilmu ukur merupakan kebenaran-kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi. Spinoza meyakini bahwa jika seseorang memahami makna yang dikandung oleh kata-kata yang dipergunakan dalam ilmu ukur, maka ia pasti akan memahami makna yang terkandung dalam pernyataan “sebuah garis lurus merupakan jarak terdekat di antara dua buah titik”, maka kita harus mengakui kebenaran pernyataan tersebut. Kebenaran yang menjadi aksioma.
Ajaran-ajaran Spinoza dikenal dengan istilah metode geometris (more geometrico).[20] Ini membantah tudingan kaum agamawan yang mengatakan bahwa pemikiran Spinoza hanyalah meolmpat-lompat dan meletup-letup. Selain itu seperti yang sudah penulis jelaskan bahwa Spinoza banyak dipengaruhi oleh Descartes dalam filsafatnya, meskipun dengan temuan akhir yang berbeda dalam istilah.
Descartes menemukan dasar akhir pada cogito, sedangkan Spinoza ia sebut sebagai substansi.[21] Substansi adalah sesuatu yang ada pada dirinya sendiri dan dipahami melalui dirinya sendiri. Ini berarti bahwa substansi sebagai sebuah kenyataan mandiri namun tidak lepas dari kenyataan-kenyataan yang lain.
Sebagai implikasi dari ajaran substansi, Spinoza merumuskan pada dua hal yaitu atribut dan modus. Atribut merupakan sesuatu yang ditangkap intelek sebagai hakikat substansi dan modus sebagai hal-hal yang berubah pada substansi. Misalnya Tuhan disebut sebagai substansi maka segala yang dijadikan pertnda adanya Tuhan dengan adanya atribut-atribut.

3.      G. W. Leibniz
Gottfried Eilhelm von Leibniz lahir pada tahun 1646 M dan meninggal pada tahun 1716 M. Ia filosof Jerman, matematikawan, fisikawan, dan sejarawan. Lama menjadi pegawai pemerintahan, pembantu pejabat tinggi Negara. Waktu mudanya ahli pikir Jerman ini mempelajari scholastik.
Ia mengenal aliran- aliran filsafat modern dan mahir dalam ilmu. Ia menerima substansi Spinoza akan tetapi tidak menerima paham serba tuhannya (pantesme). Menurut Leibniz substansi itu memang mencantumkan segala dasar kesanggupannya, dari itu mengandung segala kesungguhan pula. Untuk menerangkan permacam- macam didunia ini diterima oleh Leibniz yang disebutnya monad (monos = satu = satu unit). Monad jika dianalogikan dengan ilmu lain sama dengan titik pada matematika sebab dia yang terkecil atau yang terkecil dalam fisika disebut atom Monaden ini semacam cermin yang membayangkan kesempurnaan yang satu itu dengan cara sendiri.


F.     Kesimpulan
Rasionalisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang berpendirian bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah akal. Rasionalisme tidak mengingkari peran pengalaman, tetapi pengalaman dipandang sebagai perangsang bagi akal atau sebagai pendukung bagi pengetahuan yang telah ditemukan oleh akal. Akal dapat menurunkan kebenaran-kebenaran dari dirinya sendiri melalui metode deduktif. Rasionalisme menonjolkan “diri” yang metafisik, ketika Descartes meragukan “aku” yang empiris, ragunya adalah ragu metafisik. Metode yang digunakan adalah metode deduktif.
Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang berpendapat bahwa empiri atau pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan. Akal bukanlah sumber pengetahuan, akan tetapi akal berfungsi mengolah data-data yang diperoleh dari pengalaman. Metode yang digunakan adalah metode induktif. Jika rasionalisme menonjolkan “aku” yang metafisik, maka empirisme menonjolkan “aku” yang empiris. Empirisme memegang peranan yang amat penting bagi pengetahuan, malah barangkali merupakan satu-satunya sumber dan dasar ilmu  pengetahuan menurut penganut Empirisme. Pengalaman inderawi sering dianggap sebagai pengadilan yang tertinggi.













DAFTAR KEPUSTAKAAN


F. Budi Hardiman, Filsafat Modern dari Machievelli sampai Nietzhe, Jakarta : PT. Gramedia Utama, 2004

Fachri Syamsuddin, Filsafat Modern, Jakarta : The Minangkabau Foundation, 2009

Franz Magnis-Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis  Yogyakarta : Kanisius, 1992

http/www.blogspot.wordpress.com/M.Ied al Munir dalam tulisan Tinjauan Terhadap Metode Empirise Dan Rasionalisme, diakses tanggal 20 Maret 2011

http/www.wordpress.com/filsafat rasionalisme, empirisme dan kritisisme/fanny.diakses minggu, 20 Maret 2011

http/www.blogspot.wordpress.com/M.Ied al Munir dalam tulisan Tinjauan Terhadap Metode Empirise Dan Rasionalisme, diakses tanggal 20 Maret 2011

I. R Poedjawidjatna, Pembimbing Kearah Alam Filsafat, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2002




[1] http/www.blogspot.wordpress.com/M.Ied al Munir dalam tulisan Tinjauan Terhadap Metode Empirise Dan Rasionalisme, diakses tanggal 20 Maret 2011
[2] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzhe, (Jakarta : PT. Gramedia Citra Utama, 2004), h. 66
[3] Ibid, h. 67
[4] ibid, h. 69
[5] Fachri Syamsuddin, Filsafat Modern¸(Jakarta : The Minangkabau Foundation, 2009), h. 34
[6] Franz Magnis Suseno, op.cit, h. 73
[7] http/www.wordpress.syekhuddin ; Filsafat Modern dan Pembentukannya, diakses tanggal 20 Mei 2011
[8]  http/www.wordpress.com/filsafat rasionalisme, empirisme dan kritisisme/fanny.diakses minggu, 20 Maret 2011
[9] http/www.blogspot.wordpress.com/M.Ied al Munir dalam tulisan Tinjauan Terhadap Metode Empirise Dan Rasionalisme, diakses tanggal 20 Maret 2011
[10] http/www.wordpress.com/filsafat rasionalisme, empirisme dan kritisisme/fanny.diakses minggu, 20 Maret 2011
[11]  http/www.blogspot.wordpress.com/M.Ied al Munir dalam tulisan Tinjauan Terhadap Metode Empirise Dan Rasionalisme, diakses tanggal 20 Maret 2011
[12] Franz Magnis-Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis  (Yogyakarta : Kanisius, 1992), h. 69
[13] Fachri Syamsuddin, op.cit, h. 11
[14] I. R Poedjawidjatna, Pembimbing Kearah Alam Filsafat, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2002), h. 99
[15] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern dari Machievelli sampai Nietzhe, (Jakarta : PT. Gramedia Utama, 2004), h. 38
[16] Ibid
[17] I. R. Poedjawinata, op. cit, h. 100
[18] F. Budi Hardiman, op. cit, h. 38
[19] F. Hardiman, op.cit, h. 44
[20] Ibid. h. 46
[21] Ibid, h. 47